Pengawasan terhadap produk bioteknologi baru di Indonesia

Akhir-akhir ini, setelah kasus blue energy masyarakat dikejutkan lagi oleh kasus kegagalan produk teknologi yaitu kasus padi Super Toy. Padi yang diklaim oleh pihak penjualnya bisa diproduksi sampai 12-15 ton per hektar ternyata hanya 3-7 ton per hektar, bahkan banyak petani yang gagal panen. Kita perlu menarik pelajaran dari kasus ini dalam artinya perlunya pengawasan dari lembaga pemerintah yang melibatkan para pakar terkait sebelum merilis produk teknologi baru kepada masyarakat luas. Hal ini penting terutama jika yang dipromosikan adalah produk makanan. Di saat genetically modified food (GM food) atau makanan hasil rekayasa genetika sudah banyak diproduksi di dunia, pemerintah perlu memiliki mekanisme regulasi yang mengatur peredaran GM food demi melindungi konsumen di Indonesia termasuk media komunikasinya. Perlu ditanyakan ke kita masing-masing, berapa persen masyarakat Indonesia yang sadar kalau ternyata banyak tahu dan tempe yang dimakan sebenarnya dibuat dari kedelai impor hasil rekayasa genetika? Apakah sudah ada regulasi pemerintah yang mengatur hal ini? Kalau ada, apakah masyarakat sudah mendapat informasi yang cukup?

 

Sejak akhir abad ke-20, keilmuan bidang bioteknologi berkembang amat pesat. Hal ini membawa dampak semakin banyak produk hasil bioteknologi yang bisa dinikmati masyarakat, mulai dari kategori bahan kimia industri, biofuel, obat-obatan, sampai makanan dan minuman. Seiring dengan meningkatnya kebutuhan pangan dunia, maka telah dikembangkan bibit-bibit tanaman pangan unggul yang memiliki produktivitas tinggi. Untuk itu dilakukan berbagai aplikasi riset dan teknologi, termasuk rekayasa genetika.

 

Rekayasa genetika pada makanan dilakukan dengan mengubah susunan DNA tanaman pangan. DNA dalam makhluk hidup berfungsi sebagai pusat data informasi genetik yang menentukan semua sifat-sifat fisis dan biologis makhluk hidup termasuk warna, bentuk, daya kekebalan, dan zat-zat yang diproduksi. Rekayasa genetika tanaman pangan dapat dilakukan dengan memasukkan gen dari mikroorganisme atau tanaman lain yang mampu memproduksi racun untuk membunuh hama atau yang mampu meningkatkan kadar gizi seperti beras golden rice dari Amerika Serikat yang telah diklaim memiliki kadar vitamin A tinggi. Bisa juga rekayasa genetika dengan kombinasi kedua efek di atas.

 

Makanan hasil rekayasa genetika atau GM food telah banyak beredar di pasaran dunia terutama di negara berkembang. GM food diproduksi dari tanaman yang direkayasa genetika, termasuk tanaman padi, kedelai, jagung, tomat dan lainya sehingga memiliki produktivitas tinggi, tahan hama, atau nilai gizi yang bagus. Pengembangan GM food perlu didukung guna memenuhi tingginya kebutuhan masyarakat akan pangan yang bergizi tinggi, namun kita perlu juga cermat agar GM food yang kita konsumsi tidak memiliki efek samping yang tidak kita inginkan.

 

Kita tidak perlu apriori atau takut berlebihan untuk mengkonsumsi GM food. Sejauh ini, GM food yang sudah beredar termasuk aman dalam artian belum ada kasus yang dilaporkan akibat keracunan. Salah satu kasus ringan yang terjadi seperti yang dikemukan Anderson di jurnal Futurist tahun 2005 adalah kasus tanaman jagung yang direkayasa genetika agar bisa menghasilkan racun yang bisa membunuh hama. Efek samping yang terjadi adalah racun tersebut tidak hanya membunuh hama, namun juga serangga lain yang justru berperan dalam pembuahan di tumbuhan, seperti misalnya kupu-kupu. Hal ini bisa berdampak negatif terhadap kelestarian lingkungan hidup mengingat besarnya keterkaitan antara satu makhluk hidup dengan lainnya dalam biosistem. Di samping itu, banyak pakar bioteknologi yang menduga GM food bisa menyebabkan reaksi alergi pada beberapa orang tertentu.  Dalam artian, ada kemungkinan rekayasa genetika pada tanaman pangan tersebut bisa menghasilkan adanya kandungan zat tertentu yang tidak dijumpai pada tanaman pangan asli, yang bisa berefek negatif jika dikonsumsi. Goodman dan rekan-rekannya dalam artikel di jurnal International Archives for Allergy and Immunology tahun 2005 menekankan perlunya mekanisme pengawasan dampak alergi yang bisa ditimbulkan akibat mengkonsumsi GM food.

 

Kembali ke kasus Super Toy di atas memang belum bisa dibuktikan jika produk tersebut termasuk dalam kategori GM food, akibat kurangnya informasi yang transparan kepada masyarakat. Namun yang menjadi masalah adalah besar kemungkinan masih lemahnya pengawasan pemerintah dalam mengatur layak tidaknya suatu produk pangan baru untuk dikonsumsi masyarakat. Jangan sampai pangan yang beredar di masyarakat adalah produk uji coba semacam Super Toy yang bisa jadi belum disertifikasi kelayakannya. Kita tentu tidak mengharapkan nanti ada rakyat yang jatuh sakit dan semua pihak terkait terkesan lepas tangan. Semoga kasus Super Toy ini menjadi pelajaran baik bagi kita semua. Alangkah baiknya jika pemerintah mampu mengawasi tanaman pangan yang ada, termasuk memberi pengarahan yang memadai bagi masyarakat yang menjadi konsumen pangan tersebut.

 

Penulis:

Yalun Arifin

Dosen Universitas Surabaya (Ubaya)

Kandidat Doktor bidang Bioengineering di University of Queensland, Australia.

 

About these ads

2 Responses

  1. Regulasi pemerintah kita sebenarnya sudah ada, khususnya untuk produk2 pertanian. Namun ya itu tadi, pemerintah selalu suka hal hal yang normatif, setengah2. Terkesan bahwa kalo sudah bikin kebijakan, dianggapnya selesai urusan. Dalam blogku yang lain (http://naksara.net) saya pernah mengunkap pertanyaan sederhana GMO:how to regulate it wisely?

    Saya sendiri terus terang suka dengan rekayasa genetik pada ikan. Beberapa yang sudah direalease antara lain nila GESIT (kerja team), manipulasi kromosom sex, dan pemurnian ikan mas dengan gynogenesis. Saat ini sedang menyelesaikan topik transfer gen dengan hormon pertumbuhan. Kajian awal dengan GFP alhamdulillah dah rampung

  2. makasi infonya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 863 other followers

%d bloggers like this: