Gaji dosen universitas di Indonesia

Salah satu faktor untuk memajukan pendidikan tinggi di Indonesia adalah menaikkan standar gaji dosen atau guru. Kali ini mari kita bandingkan gaji dosen di Indonesia, Australia, dan Malaysia. Australia mewakili negara maju, sedangkan Malaysia sebagai negara berkembang yang sedang akan menjadi maju.

Australia:

1. Professor AUD 150,000 – 250,000/year

2. Associate professor AUD 100,000-150,000/year

3. Lecturer 70,000-100,000/year

Jadi jadi dosen di sana, minimal dapat Rp 40-60 juta/bln. Associate prof atau setara lektor kepala bisa sekitar 60-90 juta/bln. Dengan kondisi biaya hidup di sini, uang segitu lebih dari cukup untuk hidup layak sesuai standard negara maju. Bagaimana dengan Malaysia?  Lumayan. Dosen pendidikan doktor minimal dapat USD 1500. Professor bisa 2-3 kali lipat. Dengan asumsi biaya hidup di sana hampir sama dengan di Indonesia, gaji minimal Rp 13 juta/bln bagus juga. Terus bagaimana Indonesia? Gaji dosen di Indonesia sayang sekali masih kalah dibanding Malaysia. Ada universitas X di Indonesia yang bisa memberi gaji di atas 10 juta. Namun rata-rata di lapangan, gaji dosen di Indonesia tidak sebesar di universitas X tsb. Dengan kondisi hidup di Indonesia yang semakin mahal dengan inflasi hampir selalu dua digit, bisa dipahami jika banyak dosen punya second job. Celakanya jika mereka lebih aktif di second jobnya karena mungkin lebih menguntungkan. Hal ini bisa menyebabkan kualitas pengajaran melemah, mahasiswa terbengkalai, riset pas-pasan sehingga konsekuensinya ke penurunan kualitas.

Adanya rencana pemerintah menaikkan porsi pendidikan di APBN sampai 20 % cukup menarik. Semoga bisa membantu mengatasi kendala di atas. We will see.

About these ads

13 Responses

  1. pantes, bangsa ini di sepelekan bangsa lain. (sambil terkenyum kecut)

  2. Salam kenal boss,
    Anda studi apa di Jerman?

    Mengapa bangsa ini disepelekan bangsa lain? Banyak sebab. Tidak ada dalam soal penghargaan terhadap kaum intelektual.

  3. jangan lupa sebaiknya yang dibandingkan net salary yang setelah dipotong pajak, social advantages, health insurance, job insurance, iuran asosiasi profesi, pension plan, dll .. yang total2 kalo di canada bisa sampe 45% untuk gaji 50.000an CAD/tahun .. jatuh2nya penghasilan yg masuk saku tiap bulan sekitar 2000an CAD atau setara 18 juta rupiah.

    di Indonesia kalo kita menjadi dosen kreatif .. mencapai jumlah segitu tidaklah terlalu sulit.

  4. Memang pajak di luar negeri cukup besar. Misalnya gaji dosen biasa di Aussie setelah pajak menjadi 50-70 ribu/th atau setara 40 juta rupiah/bln.

    He he Anda pede amat dosen dpt 18 juta rupiah sebulan. Mau kreatif kayak apa? Sedikit nakal? Lagipula kita bicara kondisi yg normal saja. Kalau dosen di luar negeri yg kreatif juga bisa dapat jauh di atas yg saya tulis di atas.

  5. halo yalun,
    boleh tau gak univ x itu apa? lewat japri ajah yah.
    eddy.

  6. bener banget, saya setuju…mana mw mjd minimal asisten ahli bkn tri dharma perguruan tinggi, hrs S2, n sederet persyaratan lainnya. kalau di hitung2 tdk sesuai dengan salary yang di dapat….

  7. Sesuai dengan pengalaman saya studi dan bekerja di beberapa negara baik di bidang akademis dan nonakademis, ada yang lebih penting daripada gaji saya kira, yaitu status di masyarakat. Di beberapa negara, yang saya tau USA,Eropa,Singapore, bahkan Malaysia, profesi profesor/dosen memiliki status yang tinggi di masyarakat, setaraf dengan dokter, lawyer,investment banker, diatas engineer, akuntan etc.

    Di Indonesia sayangnya penghargaan finansial dan non-finansial terhadap pengajar universitas belum setinggi di luar negeri. Coba saja diIndonesia ke rumah calon mertua dan bilang kita cuman “dosen”, pasti mereka tidak se-antusias kalau kita “Dokter Spesialis” atau “engineer di perusahaan asing” atau “PNS departmen pajak/keuangan” meskipun kita pemegang gelar PhD dengan banyak publikasi sekalipun!

    Ketika saya bilang saya mengambil PhD, beberapa orang Indonesia mengernyitkan keningnya dan berkata “buat apa ambil PhD, paling cuman jadi dosen…”

    Selama mental masyarakat Indonesia seperti itu, Indonesia akan terus kekurangan dosen-dosen berkualifikasi PhD dari luar negeri karena mereka akan kabur ke negara-negara yang lebih menghargai mereka.

    • Saya setuju dengan pendapat Anda. Kami di institusi ini memiliki visi dan misi yang ingin mengubah paradigma ini. Prof Yohanes Surya selaku pendiri memiliki mimpi memajukan Indonesia dengan mencetak ribuan PhD dalam 10-20 th ke depan. Saat ini kami memilik >50 PhD dari luar negeri walaupun institusi kami baru berusia 2 th.

    • Mohon maaf saya baru respon sekarang. Adhiguna apa kabar? Beliau ini teman sekelas saya dulu semasa kuliah s1 :-)

      Sekarang saya angkat bicara untuk merepresentasikan “TKI intelektual” dinegeri Paman Sam. Alhamdulillah saya baru mendapatkan Ph.D. dibidang Manajemen Sistem Informasi dan baru direkrut oleh sebuah research university besar dinegeri Paman Sam ini untuk kontrak selama setahun sebagai Visiting Assistant Professor. Dan boleh saya bilang, gaji saya sebulan masih akan lebih besar daripada gaji bulanan dosen inti di UI yang sudah senior sekalipun! Jika saya mengambil jalur tenure-track, which is jalur dosen reguler, maka saya setelah melewati masa probation selama 5 tahun akan mendapatkan kebebasan akademik penuh dan bahkan cenderung immune dari PHK (kecuali melakukan tindakan asusila). Dengan kata lain, job security tinggi, gaji dan kesejahteraan juga fantastis, dsb.

      Dinegeri Paman Sam ini, dosen reguler level junior (dengan pangkat Assistant Professor) mendapatkan tunjangan kesehatan penuh, biaya akomodasi untuk travel ke academic conferences (besarannya saya lupa), dan gaji antara US$60000-$110000 per tahun akademik (untuk konversi bulanan ke Rp., please do the math). Dan jelas profesi sebagai dosen disini sangat dihargai, kenapa? Karena dosen adalah sebuah profesi, BUKAN pengabdian. Di Indonesia, dosen dan guru dianggap sebagai wujud pengabdian semata.

  8. lihat aja bukti di lapangan. kok banyak dosen dan peneliti di Indonesia yg “lari” ke luar negeri jika mereka punya kesempatan ke luar negeri. sekalipun anda memiliki beragam alasan yg menunjukkan bahwa di Indonesia masih lebih baik atau sama baik dengan luar negeri

  9. sekalipun anda punya beragam alasan bahwa di negara asing dengan di Indonesia tak ada bedanya. lihat kenyatan di lapangan kok banyak peneliti dan dosen di Indonesia betah dan makmur di luar negeri

  10. Nangis ngis…. mungkin aku juga akan melakukan hal yg sama dengan mereka yang lebih memilih “move on” dr pd “stay” melihat kondisi dosen di negeri kita ini. Tp, apapun alasannya, saya tertarik dengan apakah suasana kelabu tsb bisa dirubah di negeri ini….? Mengapa lebih memilih pindah, mengapa tidak bertahan dan mencari power utk mengubah suasana itu…?

  11. boleh juga sih ya gaji para dosen di Indonesia dinakkan tetapi kita juga harus mengingat karakter dan skill para dosen itu sendiri karna ada juga dosen yang hanya mengajar tanpa memperhatikan seberapa besar skillnya tidak cuma ada tetapi banyak sekali.tentunya hal ini ada kaitanya dengan PNS.betapa banyak orang2 berbondong2 hanya ingin menjadi PNS bahkan mereka rela harus bayar uang dalam jumlah yang besar.ada uang pasti jadi PNS, berarti orang yang tidak punya duit tetapi punya skill berarti ga terpakai donk.nah,melihat keadaan seperti ini, bagaimana mungkin pendidikan di Indonesia akan bisa maju dan bersaing dengan negara2 berkembang sedangkan yang dipikirkan oleh para pengajar hanyalah uang dan uang tanpa melihat qualitasnya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 863 other followers

%d bloggers like this: