Apa UU Pornografi bisa mencegah perkosaan dan AIDS?

Sehubungan dengan pro kontra RUU Pornografi yang sedang hangat dibahas di DPR dan masyarakat luas saat ini, ada statement dari pihak pro yang menyatakan RUU ini bisa mencegah atau minimal mengurangi secara signifikan jumlah perkosaan dan kasus HIV/AIDS. Apa benar?

Sebelumnya pertama-tama kita lihat definisi apa itu pornografi.
Menurut Donald Downs, pakar politik dari Wisconsin:
Films, magazines, writings, photographs, or other materials that are
sexually explicit and intended to arouse sexual excitement in their
audience.
Kalau menurut Merriam-Webster:
1 : the depiction of erotic behavior (as in pictures or writing)
intended to cause sexual excitement
2 : material (as books or a photograph) that depicts erotic behavior
and is intended to cause sexual excitement
3 : the depiction of acts in a sensational manner so as to arouse a
quick intense emotional reaction

Jadi kalau dilihat dari definisi di atas pornografi bersifat
eksplisit dan memang bertujuan memberikan hiburan seksual.

Nah, kemudian balik lagi ke tujuan UU ini.
Kalau tujuan UU ini mencegah bahaya perkosaan kita perlu pikir lebih
dalam beberapa fakta di bawah ini.
1. Kejahatan seksual seperti perkosaan amat jarang terjadi di
beberapa negara di mana pornografi dijual misalnya di Japan, Jerman,
Denmark dan Canada
Sumber: Milton Diamond and Ayako Uchiyama, International Journal of Law and Psychiatry 22(1): 1-22. 1999
http://www.hawaii.edu/PCSS/online_artcls/pornography/prngrphy_rape_jp.html
2. Namun hal yang berbeda terjadi di USA di mana pornografi
dilegalkan dan tingkat perkosaan tinggi
Sumber:
http://oak.cats.ohiou.edu/~ad361896/anne/cease/rapestatisticspage.html
http://www.pcar.org/about_sa/stats.html
Namun perlu dicatat kalau kasus perkosaan di USA lebih banyak terjadi
kota kecil di mana umumnya tingkat pendidikan lebih rendah.
3. Perkosaan juga terjadi di negara-negara Timur Tengah yang di mana
pornografi dilarang 100 %.
4. Kasus perkosaan massal terjadi umumnya saat perang. Misalnya Rape
of Nanking, kasus juguun ianfu, Bosnia, Sudan, Kosovo, dll.
Ada link yang mungkin berguna mengenai data statistik perkosaan di 65
negara di:
http://www.scribd.com/doc/21672/Crime-Statistics-Rapes

Jadi berdasarkan data-data di atas yang sudah mencakup berbagai ras,
agama, budaya, maka hubungan antara akses pornografi dan tingkat
perkosaan bisa jadi tidak significant secara statistik.

Sehingga kalau tujuan UU Porno adalah mengurangi kasus perkosaan bisa-
bisa tidak efektif.

Saya yakin banyak cara efektif lain untuk mengurangi perkosaan
misalnya lewat pendidikan sex dan faktor hubungan keluarga. Faktor
ekonomi juga bisa jadi penentu karena tingkat pendidikan berkorelasi
positif dengan tingkat ekonomi individu. Selain itu, penghargaan
terhadap wanita sbg makhluk yang sejajar dengan pria juga membantu
mengurangi kecenderungan kekerasan seksual thd wanita.

Lebih lanjut kalau tujuan UU pornografi ini untuk mengurangi kasus
HIV/AIDS ini juga ngga tepat. Tingginya kasus HIV/AIDS lebih
ditentukan oleh tingkat pendidikan, sanitasi dan ekonomi. Di USA
kasus HIV/AIDS terjadi banyak di kalangan kulit hitam padahal baik
kulit putih, kuning maupun hitam di sana sama-sama menikmati
pornografi. Yang membedakan adalah tingkat ekonomi, sanitasi dan
pendidikan. Hal yang sama terjadi di Papua. Jumlah orang yang
mengkonsumsi pornografi di Papua rasanya tidak sebanyak di Jakarta di
mana ribuan DVD porno dijual bebas di Glodok. Tapi justru orang Papua
lebih banyak kena AIDS.

Jadi saya bisa memahami pandangan kalau bagi banyak tempat
di Indonesia Timur yang lebih penting adalah urusan ekonomi,
kesehatan, dan pendidikan.

Semoga Pemerintah dan DPR lebih bijak memilih strategi buat mengatasi
masalah bangsa.
Kalaupun UU ini jadi disahkan, alangkah baiknya jika definisi dan isinya
dirombak dan penerapannya diperjelas agar tidak menimbulkan konflik
horisontal.

4 Responses

  1. RUU ini nggak penting. Daripada anggaran negara habis buat ngrancang UU spt ini, lebih baik untuk menigkatkan mutu masyarakat kita, dengan membebaskan mereka dari kemiskinan dan kebodohan. Kalo masyarakat kita udah sejahtera dan berpendidikan, saya yakin kita nggak perlu RUU ini.
    Jadi sebaiknya RUU ini dihapus. Kalau hanya ditunda atau direvisi lagi, duit negara kebuang2 lagi. Apalagi kalo sampe disahkan, saya yakin bukan cuma duit negara yang terbuang sia-sia..🙂

  2. Tambah rame… Di dalam tim pembahas sendiri tampaknya ada perpecahan… Seharusnya sih udah kliatan kalo RUU ini nggak bener… Kalo bener, mana mungkin berlarut-larut kayak gini…

  3. kok yang dijadikan parameter ukur hanya perkosaan?
    saya pikir anda punya kecerdasan yang cukup untuk menilai bahwa ekses dari pornografi bukan hanya perkosaan.

  4. Terima kasih ponds,
    Anda benar. Saya cukup cerdas menilai bahwa ekses dari pornografi bukan hanya perkosaan. Ukuran yang dipakai juga bukan hanya perkosaan. Posting ini hanya untuk menjawab para pendukung RUU versi Sept barusan yang menyatakan RUU ini untuk mencegah perkosaan.

    Jika Anda cermati posting-posting dan komentar saya di blog ini jelas bahwa saya bukan anti UU pornografi. Di negara-negara power house pornografi seperti Jepang dan Belanda pun ada UU pornografi. UU di sana lebih fokus pada peredaran materi seperti DVD, majalah dan lainnya agar tidak merusak generasi muda. Tapi RUU pornografi versi skrg ini definisinya terlalu luas dan bisa berekses pada pertikaian antar golongan di Indonesia. Definisi yang dipakai pun hanya pencerminan paham salah satu golongan di Indonesia. Jadi cenderung sepihak dan memaksakan. Intinya, definisi dan isi RUU ini harus dirombak. Harus lebih fokus ke perlindungan wanita dan anak-anak, bukan mengatur cara orang pakai baju, berbahasa tubuh atau bertutur kata. Budaya asli Indonesia sudah cukup baik mengatur etika moral berbangsa dan bernegara.

    Baru-baru ini ada seorang pemuka agama berniat kawin dengan 3 anak sekaligus berusia 12, 9, dan 7 tahun.
    http://www.detiknews.com/read/2008/10/23/171221/1025030/159/tidak-hanya-satu-tapi-tiga-sekaligus
    Menurutnya ini sudah sah dengan ajaran agamanya. Menurut saya inilah yang lebih penting, yaitu bagaimana melindungi anak-anak Indonesia tidak hanya dari pornografi tapi juga dari ajaran dan paham yang membahayakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: