Perbandingan 5 Rudy & pola pikir anak Indonesia

Berikut artikel ini bukan tulisan saya. Namun saya melihat tulisan ini bagus dan layak disebar luaskan.

Perbandingan 5 Rudy & pola pikir anak Indonesia

Saya ingat waktu di SMA dulu, kami (murid) harus menjalani test IQ untuk
penjurusan. Sekolah saya menetapkan bahwa murid2 dengan IQ tinggi bisa
masuk ke jurusan IPA/Science. Murid dengan IQ sedang hanya bisa masuk
jurusan Sosial dan yang paling rendah IQnya hanya diijinkan untuk masuk ke jurusan Bahasa.

Aturan di sekolah saya ternyata berlawanan dengan aturan dari SMA swasta
terkenal di Yogyakarta yang mengarahkan anak-anak yang ber IQ paling tinggi
justru ke jurusan Bahasa.

Sewaktu saya diskusi dengan Romo Mangun Wijaya (Alm) tentang kurikulum
sekolah, Beliau mengatakan bahwa pendidikan di Indonesia masih mewarisi
“budaya” kolonial Belanda.

Menurut beliau, seharusnya anak-anak yang kecerdasannya tinggi seharusnya
diarahkan untuk masuk jurusan Sosial supaya di masa mendatang akan lahir
ekonom, hakim, jaksa, pengacara, polisi, diplomat, duta besar, politisi dsb
yang hebat2.

Tetapi rupanya hal itu tidak dikehendaki oleh penguasa (Belanda). Belanda
menginginkan anak-anak yang cerdas tidak memikirkan masalah2 sosial
politik. Mereka cukup diarahkan untuk menjadi tenaga ahli/scientist,
arsitektur, ahli computer, ahli matematika, dokter, dsb yang asyik dengan
science di laboratorium (pokoknya yang nggak membahayakan posisi penguasa).

Saya nggak tahu persis yang benar Romo Mangun Wijaya atau pemerintah
Belanda. Hanya saja waktu itu saya yang kuliah jadi patah semangat karena
kayaknya kurikulum di Indonesia ini hampir tidak ada hubungannya dengan
kehidupan yang akan dijalani orang setelah keluar dari sekolah (SETUJU!)

Kita bisa lihat, Insinyur yang menjadi politisi bahkan memimpin
parlemen,kemudian dokter (umum) bisa menjadi kepala Dinas P & K atau tenaga
marketing, sarjana theologia yang jadi pengusaha, dsb. Sampai saat
ini,masih banyak orang tua dan masyarakat yang beranggapan bahwa anak yang
hebat adalah anak yang nilai matematika dan science-nya menonjol.

Paradigma berpikir orang tua/masyarakat ini sangat mempengaruhi konsep anak
tentang kesuksesan. Bulan Juni 2003 yang lalu, lembaga tempat saya bekerja
mengadakan seminar anak-anak.

Di depan 800-an anak, Kak Seto Mulyadi (Si Komo) menunjukkan 5 Rudy.
– Yang Ke-1 : Rudy Habibie (BJ Habibie) yang genius, pintar bikin pesawat
dan bisa menjadi presiden.
– Yang Ke-2 : Rudy Hartono yang pernah beberapa menjadi juara bulu tangkis
kelas dunia.
– Yang Ke-3 : Rudy Salam yang suka main sinetron di TV
– Yang Ke-4 : Rudy Hadisuwarno yang ahli di bid. kecantikan dan punya byk
salon kecantikan di bbrp kota .
– Yang Ke-5 : Rudy Choirudin yang jago masak dan sering tampil memandu
acara memasak di TV.

Sewaktu Kak Seto bertanya,
“Rudy yang mana yang paling sukses menurut kalian?”
Hampir semua anak menjawab “Rudy Habibie”
Sewaktu ditanyakan “Mengapa, kalian bilang bahwa yang paling sukses Rudy
Habibie?”

Anak-anakpun menjawab “Karena bisa membuat pesawat terbang, bisa menjadi
presiden, dsb”
Sewaktu Kak Seto menanyakan “Rudy yang mana yang paling tidak sukses?”
Hampir seluruh anak menjawab “Rudy Choirudin”

Ketika ditanyakan “Mengapa kalian mengatakan bahwa Rudy Choirudin bukan
orang yang sukses?”
Anak-anakpun menjawab “Karena Rudy Choirudin hanya bisa memasak”
Memang begitulah pola pikir dan pola asuh dalam keluarga dan masyarakat

Indonesia pada umumnya yang masih menilai kesuksesan orang dari karya-karya
besar yang dihasilkannya. Masyarakat kita banyak yang belum bisa melihat
kesuksesan adalah pengembangan talenta secara optimal sehingga bisa
dimanfaatkan dalam kehidupan yang dijalaninya dengan “enjoy”.

Banyak masyarakat kita yang beranggapan bahwa IQ adalah segala-galanya.
Padahal kenyataannya EQ, SQ dan faktor2 lain juga sangat menentukan. Dalam
seminar tsb Kak Seto hanya ingin merubah paragidma berpikir anak-anak (dan
juga orang tua/keluarga) . Anak-anak dan orang tua harus menyadari dan
mensyukuri setiap talenta yang diberikan oleh Tuhan.
Bila talenta tersebut dikembangkan dengan baik, maka kita bisa mencapai
kesuksesan di “bidangnya”.

Jadi untuk anak-anak yang tidak pintar matematika, anak2 tidak perlu minder
dan orang tua tidak perlu malu atau menekan anak. Anak-anak yang lebih
menyukai pelajaran menggambar daripada pelajaran2 lain, bukanlah anak-anak
yang bodoh karena justru anak2 yang punya imajinasi tinggilah yang pintar
menggambar/ melukis.

Anak-anak yang suka ngobrol, kalau kita arahkan bisa saja kelak menjadi
politisi atau negotiator yang baik.
Anak-anak yang banyak bicara, kalau diarahkan untuk menuliskan apa yang
ingin dibicarakan bisa2 menjadi penulis yang hebat.

Mbak Dwi Setyani juga mengingatkan kita untuk lebih memfokuskan pada
kekuatan kita dari pada “wasting time” bersungut-sungut, hanya memikirkan
kelemahan kita.

Saya pernah membaca pengalaman hidup seorang penyanyi di Amerika. Penyanyi
tsb dulunya tidak PD karena wajahnya tidak terlalu cantik dan giginya
tonggos. Saat menyanyi di pub, dia repot mengatur bibirnya supaya giginya
yang tonggos tidak dilihat orang. Hasilnya: ia hanya bisa menghasilkan
suara yang pas-pasan. Ketika temannya meyakinkan bahwa giginya yang tonggos
itu bukanlah masalah, maka iapun bisa menyanyi dengan bebas dan
meng-eksplore suara emasnya. Ternyata orang-orang mengingat penyanyi itu
karena kualitas suaranya, bukan parasnya yang jelek dengan gigi tonggosnya.

*** Kitapun tahu bahwa Tuhan menciptakan setiap kita (manusia) dengan
maksud yang terbaik demi kemuliaan-Nya. Kalau saja kita meyakini hal
tersebut, maka semua orang akan mensyukuri keadaan dan memanfaatkan
talenta yang Tuhan berikan untuk kemuliaan-Nya.

Sumber: Anynomous

2 Responses

  1. Kayaknya penyanyi yang dimaksud adalah Barbara Streisand

  2. wah…. nice post nih ^^

    bener banget,, kita di Indonesia lebih cenderung melihat org dari tinggat IQ-nya yang tinggi… bukan seberapa pintar seseorang dalam bidang masing2…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: