Pentingnya Kriminalisasi Terorisme

Berikut ini bukan artikel saya. Artikel ini dari rekan satu universitas yang saya kagumi kecerdasannya dalam ilmu sosial politik.

Pentingnya Kriminalisasi Terorisme

 

Dalam sebuah seminar di The University of Queensland, Australia (30/11/2008) , Nadirsyah Hosein, PhD., seorang pakar hukum dan terorisme dari The University of Wolonggong yang juga putera Ulama terkemuka Indonesia, Prof. KH. Ibrahim Hosein, memberikan ilustrasi menarik tentang problem pemaknaan atas konsep terorisme. Dalam ilustrasinya digambarkan, ada seorang lelaki dengan menenteng senjata M16 memasuki sebuah gedung pertemuan yang telah disesaki oleh puluhan hingga ratusan orang. Lelaki itu mencoba memasuki ruangan tersebut dengan satu maksud: membunuh semua yang berada di dalamnya.

Nadirsyah yang juga Rois Syuriyah PCI NU Australia-New Zealand itu pun lalu membuat pengandaian menarik. Pertama, kalau lelaki itu sebelum menumpahkan butiran timah panas dari senjata M16 yang dibawanya meneriakkan “Allahu Akbar”, bagaimana reaksi publik maupun pengambil kebijakan? Kedua, kalau lelaki dimaksud sebelum membunuh meneriakkan “I love you” karena di ruangan itu terdapat seorang perempuan yang menjadi pujaan hati namun cintanya tak berbalas, bagaimana pula respon publik maupun para pengambil kebijakan?

Pada kasus permisalan pertama, kata Nadirsyah, orang pun buru-buru menyebut tindakan brutal lelaki tersebut sebagai aksi terorisme. Mengapa? Argumentasi umum akan mengatakan, hal itu disebabkan karena aksi itu dilakukan dengan mengaitkannya dengan motivasi agama. Yang dijadikan bukti penguat argumentasi itu adalah teriakan “Allahu Akbar” sebelum tindakan brutal pembunuhan dilakukan.

Pada kasus permisalan kedua, publik dan para pengambil kebijakan cenderung tidak menyebut aksi pembunuhan brutal itu sebagai terorisme, melainkan sebuah aksi kriminal biasa sebagaimana tindakan kriminal lainnya. Mengapa? Karena, dalam penilaian mereka, aksi itu tidak dilakukan dalam kaitannya dengan motivasi agama. Tapi, motivasi sakit hati akibat cintanya tak berbalas. Buktinya adalah teriakan “I love you”.

Pesan yang ingin disampaikan oleh Nadirsyah di atas adalah bahwa konsep terorisme dalam realitasnya telah mengalami problem pemaknaan yang besar. Ironisnya, problem pemaknaan ini menimbulkan dampak yang cukup besar, mulai dari kepentingan kemanusiaan, akademik hingga kebijakan praktis dalam memberikan solusi atas kasus terorisme yang kini menjadi isu global.

Kesalahan Muslim

Runyamnya problem pemaknaan di atas, menurut hemat saya, tidak berdiri sendiri. Problem pemakaan dimaksud juga dipicu oleh sikap masyarakat Islam sendiri. Pada kasus eksekusi Amrozi cs pada 9 November 2008, sebagai misal, masih terdapat persepsi publik yang meyakini dan menilai para pelaku bom Bali tersebut sebagai pahlawan dan mujahid.

Bahkan, kerumunan massa saat pemakaman Amrozi cs telah menimbulkan kesan negatif di belahan dunia lain atas citra Islam. Di Australia, sebagai misal, hampir seluruh media menjadikan kerumunan massa tersebut sebagai berita utama. Lebih jauh lagi, foto-foto kerumunan massa itu dieksploitasi sebagai cerminan atas kaitan antara publik Islam di Indonesia dan dukungan terhadap pelaku terorisme.

Belum mereda tuntas kasus eksekusi Amrozi cs di Indonesia, kita pun dikejutkan kembali oleh aksi brutal di Mumbai, India, 26 November 2008. Aksi yang telah menewaskan tak kurang dari 125 korban meninggal dan melukai ratusan lainnya itu kontan dilekatkan dengan dan disebut sebagai terorisme. Sebab, pelakunya dicurigai berasal dari kelompok Islam militan yang menjadi jaringan kaum militan lintas batas negara (cross border militant network). Bahkan, jaringan militan itu beroperasi sepanjang Asia Selatan hingga Asia Tengah.

Dalam kasus terorisme di atas, publik pun tak pernah lepas dari memori kolektif yang bermuara pada pengaitan antara tindakan terorisme dan agama. Kalangan umat Islam juga berkontribusi terhadap menguatnya pengaitan ini. Pemboman dikaitkan dengan aksi jihad. Pembunuhan terhadap kelompok lain diyakini sebagai bagian dari ekpresi keyakinan atas doktrin jihad. Ini kontribusi kesalahan besar kelompok Islam sendiri.

Kesalahan umat Islam ini bertemu di satu titik dengan kecerobohan yang akut di kalangan para pengambil kebijakan di tingkat dunia. Munculnya kekuatan neo-konservatisme sebagai penguasa politik di negeri seperti Amerika dan Australia memperparah tingkat kecerobohan itu. Pasalnya, basis kognitif yang mendasari pengambilan kebijakan mereka masih dibangun dari pengaitan antara aksi terorisme dan agama.

Kesalahan yang sama termasuk juga dilakukan oleh para akademisi. Berbagai buku yang ditulis mengenai terorisme seperti oleh Justin Healey (2004), Rohan Gunaratna (2005), Greg Fealy dan Aldo Borgu (2005) serta bunga rampai editan Hillel Frisch dan Efraim Inbar (2008) juga mengaitkan aksi terorisme semata-mata dengan motivasi agama. Jarang ada karya akademik yang melepaskan terorisme dari agama. Sulit ditemui karya akademik yang menyebut terorisme semata-mata sebagai tindakan kriminal.

Jauhkan Ideologisasi

Umat Islam perlu belajar banyak bahwa terorisme adalah terorisme. Ia adalah sebuah bentuk kekerasan atau bagian dari tindakan kriminal terhadap kemanusiaan (crime against humanity). Apapun motivasi dan bentuk ekspresinya, terorisme telah mengancam harkat kehidupan kemanusiaan.

Meskipun para pelaku terorisme dalam ekspresi mereka kerap melakukan pengaitan antara aksi mereka dan ideologi Islam yang mereka anut, publik Muslim seharusnya tidak terjebak dengan melakukan ideologisasi atas tindakan terorisme mereka. Publik Muslim harus cerdas dengan mencoba melakukan pemisahan. Islam tidak boleh dibajak sebagai kedok untuk melakukan aksi terorisme dan kriminal lainnya atas kemanusiaan.

Pada ilustrasi oleh Nadirsyah di atas, kedua permisalan yang dijadikan sebagai contoh sama-sama merupakan bentuk ekspresi tindakan kriminal. Keduanya tidak bisa dibedakan hanya karena teriakan yang berbeda semata sebelum aksi pembunuhan.

Siapapun Anda dan dari latar belakang madzhab agama apapun Anda berasal, lafal “Allahu Akbar” adalah lafal suci. Sebab, ia merupakan bentuk pengagungan terhadap kebesaran Tuhan. Karena itu, sungguh lacur jika lafal itu lalu digunakan sebagai justifikasi atas tindakan kriminal, apapun bentuknya.

Atas pertimbangan itu, publik dan para pengambil kebijakan harus melakukan kriminalisasi terhadap aksi dan tindakan terorisme, apapun bentuknya. Jauhkanlah kecenderungan ideologisasi saat berupaya memahami dan mencari penyelesaian soal terorisme.

Sebab, pada skala yang paling kecil, pengaitan antara terorisme dan agama tidak akan banyak membantu mengangkat harkat dan derajat Islam di mata dunia. Pengaitan itu juga membenturkan upaya penyelesaian aksi terorisme dengan isu agama. Dan itu justru cenderung memperlambat dan bahkan cenderung kontraproduktif bagi upaya kontra-terorisme itu sendiri.

Karena itu, semua pihak harus menyadari sepenuhnya bahwa terorisme adalah aksi kriminal. Dan, kita pun layak sepakat untuk memeranginya atas nama kemanusiaan

 

Oleh : AKH. MUZAKKI,

Dosen IAIN Sunan Ampel Surabaya dan Kandidat PhD di

The University of Queensland, Australia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: