Bagaimana sebaiknya anak menonton TV

Seorang blogger menulis bahwa anak-anak tidak baik menonton TV. Tulisannya bisa dicek di http://omgemblung.blogdetik.com/2008/12/26/mengapa-sebaiknya-anak-dilarang-nonton-tv/

Menurut saya, ide-ide penulis terlalu menggeneralisasikan permasalahan. Generalisasi adalah salah satu kelemahan yang sering dijumpai di Indonesia, bahkan di kalangan yang seharusnya bisa berpikir lebih maju. Tidaklah perlu mengebom satu rumah hanya untuk membunuh seekor tikus. Kita harus cerdas mencari cara yang efektif dan efisien.

Anak-anak menonton TV

Anak-anak menonton TV

 

Tidak semua acara TV di Indonesia itu jelek. Beberapa sebenarnya cukup bagus mendidik anak-anak, hanya saja jumlahnya belum banyak. Yang perlu dilakukan adalah proses seleksi tayangan apa yang cocok untuk anak-anak. Dalam hal ini kedua pihak yaitu stasiun TV dan orang tua harus berperan aktif.

Stasiun TV wajib membuat sistem kategorisasi acara mereka mana yang layak untuk anak-anak dan mana yang khusus dewasa. Jam tayang harus diatur sedemikian rupa agar menyesuaikan sistem tersebut. Di setiap permulaan acara, harus ada pemberitahuan kategori dari tayangan yang akan segera dimulai. Praktek ini sudah biasa di Australia, USA, dan beberapa negara maju lainnya. Dengan ini, pemirsa sudah bisa mengantisipasi kira-kira muatan apa yang bakal ditonton. Sebagai contoh, suatu acara sinetron X perlu diberi label dewasa karena memuat kata-kata yang kasar dan tindakan kekerasan. Tema yang dibawakan juga bersifat dewasa, tidak cocok untuk anak. Acara kartun semacam Doraemon, Dora the Explorer, Unyil bisa dikategorikan semua umur, namun kartun seperti Conan, Bleach lebih cocok untuk dewasa sehingga jam tayangnya harus malam. Ada juga acara yang di mana anak-anak boleh nonton tapi didampingi oleh orang dewasa (parental guide). Lebih detil di https://yalun.wordpress.com/2008/08/30/tayangan-kartun-bagi-anak-anak-indonesia/

Namun hal-hal ini percuma jika tidak ada peran aktif juga dari orang tua. Orang tua adalah orang yang paling bertanggung jawab terhadap anak-anaknya, bukan baby sitter atau pembantu. Orang tua harus mau dan wajib meluangkan waktu mengontrol acara TV yang dinonton anak, bahkan harus juga meluangkan waktu mendampingi anak menonton TV. Banyak acara-acara yang sebenarnya bermanfaat buat anak-anak namun orang tua perlu menjadi filter agar efek negatif dari acara tersebut bisa diminimalkan.

Harus diakui banyak kelemahan baik di sistem pertelevisian dan perilaku orang tua Indonesia. Perlu adanya kampanye oleh pemerintah guna menyadarkan perlunya peran aktif orang tua disamping ketegasan hukum kepada stasiun TV.

Lebih lanjut:

  1. http://www.childdevelopmentinfo.com/health_safety/television.shtml
  2. http://www.umext.maine.edu/onlinepubs/htmpubs/4100.htm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: