Pentingnya menghindari plagiarisme

Plagiarisme adalah tindakan tidak terpuji berupa menjiplak atau mengatas namakan karya orang lain sebagai hasil sendiri. Beberapa contoh plagiarisme adalah menjiplak skripsi milik orang lain dan mencuri design milik orang lain lalu mengklaim sebagai hasil karya sendiri. Selain itu, tindakan plagirisme yang lebih halus namun sering dilakukan adalah mengungkapkan pendapat atau pandangan milik orang lain tanpa menyebutkan nama orang tersebut.

 157458385_6dc97e34141

Sumber: http://hwlibrary.wordpress.com/2008/04/30/plagiarism-whose-idea-was-that-anyway/

Suatu masyarakat tidak akan bisa berkembang jika plagiarisme tidak diberantas. Tanpa adanya keadilan dan penghargaan yang semestinya kepada figur-figur yang berprestasi, amatlah sulit tercapai kemajuan baik dalam segi sosial, moral, maupun teknologi. Orang-orang cerdik pandai akan mencari masyarakat lain yang bisa memberi penghargaan yang adil. Ini yang menyebabkan banyak dari mereka pindah ke negara maju.

 

Masalah plagiarisme di Indonesia nampaknya sudah dikenal di negara maju. Misalnya, salah satu topik utama dalam pelatihan calon mahasiswa Indonesia untuk diberangkatkan ke Australia adalah pengertian plagiarisme. Diharapkan mahasiswa Indonesia bisa menghindari praktek ini dan tidak terkena hukuman yang berat. Plagiarisme di sekolah atau universitas negara maju umumnya bisa berakibat si murid digugurkan atau bahkan dikeluarkan.

 

Mengapa plagiarisme banyak dijumpai di Indonesia? Hal ini karena kurangnya pengertian jika tindakan ini salah. Sering orang tidak sadar jika dia melakukan hal ini. Misalnya banyak orang yang berkata-kata seakan-akan itu adalah hasil pemikirannya, padahal sebenarnya karena dia mencontek tulisan orang lain. Lain halnya jika dia mampu mengembangkan pemikiran baru yang itupun masih perlu menyebutkan orang lain yang menjadi nara sumbernya. Saya sendiri mengamati banyak mahasiswa tempat saya mengajar dulu kalau tulis penelitian referensinya sedikit dan agak asal-asalan. Namun sebagian lainnya sudah bisa menulis referensi yang cukup baik.

 

Pemahaman buruknya plagiarisme harus ditanamkan sejak dini. Di negara maju umumnya anak-anak sejak kecil diajarkan untuk tidak menjiplak. Setiap anak dimotivasi untuk menghasilkan karya sesuai kreativitas masing-masing. Meniru karya orang lain sebaik apapun dinilai rendah. Dengan ini, setiap anak akan terpacu untuk menampilkan hasil pemikiran sendiri. Di samping itu juga menghargai hasil karya milik temannya. Di Indonesia, hal ini masih jarang. Walaupun mencontek tidak dibenarkan namun pemahaman pentingnya mengakui hasil karya orang lain masih minim. Hal ini berakibat banyak orang yang merasa dia menghasilkan karya sendiri namun tidak menyebutkan nara sumber yang berperan penting baginya.

 

Saya sendiri sejak membuat blog ini dan terlibat di situs lain pernah menerima permintaan dari beberapa orang. Sebagian besar sebenarnya cukup etis dengan meminta beberapa informasi secukupnya. Ada juga yang berjanji menyebutkan saya sebagai nara sumber. Namun ada juga yang cenderung semaunya, meminta semua sumber mulai dari jurnal, paten, data, bahkan yang cenderung spesifik. Perlu disadari sumber-sumber tersebut memiliki nilai dan harga. Hasil karya milik orang lain tersebut perlu dibeli. Sebagian memang bisa gratis namun sebagian besar justru harus bayar, apalagi kalau berupa paten. Bisa jadi orang tadi belum paham soal plagiarisme, bisa dimaklumi.

 

Saya sendiri juga beberapa kali mengutip tulisan orang lain untuk dimasukkan ke blog ini. Semua sumbernya jelas dan menyebutkan penulis aslinya. Semoga orang lain juga bisa bersikap demikian.

6 Responses

  1. Sebenarnya plagiarism bisa dihindari dengan sedikitg kreatif saja. Sperti Naskah tentang ardilawet bisa dipakai dalam berbagai cerita oleh sejumlah tokoh jawa jaman dahulu. Lalu apakah setiap serita ardilawet bisa anggap plagiarism? Entahlah. Ardilawet tetap saja dikenal dengan ardilawet.

  2. setujuuuuu..
    stop PLAGIAT…hehe

    Yup !

  3. mas, saya ikut ambil poin-poin soal plagiarisme nya yah (bukan copas). silahkan lihat tumblr saya untuk melihat artikel yang saya buat. terima kasih.

  4. minta buat referensi juga……. tengkyu

  5. Salam,

    pada tulisan anda ttg : “Selain itu, tindakan plagirisme yang lebih halus namun sering dilakukan adalah mengungkapkan pendapat atau pandangan milik orang lain tanpa menyebutkan nama orang tersebut. ”

    jd misalkan bgini, kalau misalkan kita sedang meneliti kemudian kita mendapatkan suatu kesimpulan dan ternyata mungkin saja kita tidak tau kalau toh ternyata ada seorang peneliti juga yg sudah mendapatkan kesimpulan yg sama. kasus disini menunjukan ketidaksengajaan si peneliti kan?.

    nah, apakah ini termasuk kategori plagiarisme?

    lalu solusinya bgmn?

    thx b4🙂

    • Hi Marlin.
      Kasus yang Anda sebutkan bisa saja tidak sengaja dikatakan plagiarisme. Sehingga umumnya kontrol dilakukan oleh editor jurnal dan patent untuk mengecek apakah sudah ada publikasi atau klaim yang sama.
      Kasus plagiarisme dosen ITB baru-baru ini selain karena kecurangan si dosen, juga karena kelengahan pembimbing dan pihak jurnal sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: