Pendidik, bukan pemburu

Akhir-akhir ini media massa ramai memberitakan kasus kematian David Hartanto Widjaja di Nanyang Technological University (NTU). Ada tulisan di Kompas 7 Maret 2009 dari Bapak Rhenald Kasali yang bagus. Tulisan ini berfokus pada aspek-aspek sosial dan psikologis yang mempengaruhi kondisi kejiwaan siswa.

Pendidik, bukan pemburu

Hari Senin, 2 Maret 2009, David H Wijaya, mahasiswa pintar asal Indonesia, tewas di Nanyang Tech University, Singapura.

 Semula, diberitakan ia kepepet, menusuk profesornya, lalu bunuh diri. Kejadian seperti ini sering dilihat dari sisi kriminalitas (urusan polisi). Namun, benarkah demikian?

 Kalau David masih hidup, para pendidik bisa belajar banyak darinya. Versi lain menyebutkan, David bukan pencemas, kurang pandai bergaul, atau rendah kecerdasan sosialnya. Akan ada versi-versi lain yang perlu dilihat dari kacamata pendidikan.

 Naluri saya yang bergelut di bidang pendidikan selama lebih dari 20 tahun mengatakan sebaliknya. Besar kemungkinan mereka adalah korban dari sistem dan perilaku pemburu dalam pendidikan. Apalagi Pemerintah Singapura amat berkepentingan memburu anak-anak pintar etnis tertentu untuk mengimbangi populasi bangsanya.

 Jadi, diperlukan kehati-hatian dalam menafsirkan versi awal yang tidak dilandasi pada cara berpikir dari kacamata pendidikan.

Pemburu bukan pendidik

 Bangku sekolah tentu bukan hutan belantara yang didiami aneka satwa liar nan buas. Sekolah adalah entitas sosial yang mendidik masyarakat agar hidup dalam peradaban ilmiah, saling menghargai, dan mencapai kesejahteraan atau kebahagiaan.

 Namun, entah mengapa, sekolah telah berubah menjadi lembaga yang meresahkan anak didik. Bukan pemburu bersenjata, melainkan guru yang menuntut bekerja tertib, berkompetisi, dan prestasi akademis.

 Daripada menghargai keunikan masing-masing, kita membuat standar, lalu menempatkan mereka dalam struktur dan ranking. Akibatnya, bersaing mengejar ranking dan berebut masuk standar untuk mendapat pengakuan, beasiswa, dan penghargaan. Mereka yang memiliki keunikan dianggap bodoh meski di masyarakat terbukti sukses dan karya- karya mereka amat dihargai.

 Guru, atau dosen, yang mengabaikan faktor keunikan anak didiknya adalah pemburu, dan bagi saya pemburu bukan pendidik. Pemburu menatap tajam anak didiknya yang tak masuk ranking, menghukum dan kadang menyiksa. Di televisi sering kita saksikan rekaman gambar guru yang menyiksa murid-muridnya.

 Anak-anak pintar pun tak luput dari ”penyiksaan” pemburu. Mereka dituntut menunjukkan kehebatan dan selesai lebih cepat dari jadwal. Keunikan masing-masing tidak diterima sebagai kehebatan.

 Saat mengepalai program doktor, saya sering terpaksa menggeser penguji, bukan karena mereka kurang hebat, tetapi karena lebih cocok jadi pemburu. Pemburu membombardir anak didiknya dengan berbagai pertanyaan sinis, out of context, dengan tujuan menjatuhkan daripada membantu mereka menemukan masa depannya.

Sisi anak didik

 David mungkin saja tidak memiliki kecerdasan sosial dan emosional seperti kata sejumlah kalangan. Namun, para guru di BPK Penabur mengatakan, David bukan penyendiri. Di kampus, ia juga aktif dalam kegiatan olahraga dan menjadi utusan Indonesia dalam Olimpiade Matematika di Meksiko. Karena David sudah tiada, mungkin kita bisa belajar dari David-David lain.

 Di Orinda, California, pada tahun 1985, seorang anak perempuan membunuh teman sekelasnya yang pintar dan populer. Saat diinterogasi polisi dan diperiksa kesehatan jiwanya, diketahui ia merasa tertekan karena dirinya nothing, invisible (tak ada yang menghiraukan), dan worthless (tak bernilai).

 Perasaan dan pikiran yang demikian membentuk keyakinan (belief). Matthew McKay dan Patrick Fanning (1991) bahkan menyebutkan, banyak sekali anak didik yang memiliki keunikan menjadi prisoners of belief (narapidana keyakinan) yang membuat mereka tidak bahagia dan sulit mengendalikan diri.

 Pada masa krisis kita akan banyak bergulat dengan narapidana-narapidana keyakinan yang terbelenggu dan sulit menerima kesulitan hidup, kegagalan, dan aneka keterbatasan, baik karena peristiwa ekonomi maupun kepemimpinan atasan yang buruk. Mereka memaksa dirinya masuk dalam standar dan menyangkal keunikan dirinya semata-mata karena belenggu sekolah.

 Keyakinan inti (core-belief) tak pernah disentuh para pendidik karena banyak sebab. Pertama, tak sedikit pendidik yang juga menjadi narapidana keyakinan. Kedua, diperlukan therapy, dan therapy ini bukan kurikulum inti yang dianggap penting oleh pengelola pendidikan. Ketiga, tak banyak orang paham men-therapy belief seseorang.

10 elemen

 Saya pernah memasukkannya, dan hingga kini masih menggunakannya untuk membongkar belenggu-belenggu yang mengikat anak didik, tetapi pengalaman mengatakan, implementasinya banyak menemui hujatan dari para ”pemburu”. Untuk mencegah kasus David-David lain, kita harus memeriksa core-belief inventory yang tersembunyi di balik pikiran anak-anak didik dan para pendidik. Inventory ini terdiri dari 10 elemen, yaitu percaya diri, rasa nyaman, kontrol diri, cinta, otonomi, keluarga, rasa adil, kinerja, perubahan, kepercayaan (trust).

 Elemen-elemen itu dapat dibagi tiga: rasa percaya, hubungan personal, dan pengendalian hidup. Ketiganya memengaruhi tingkat kecemasan, pengambilan keputusan, asumsi terhadap orang lain, ketenangan/kecemasan, dan keberhasilan hidup.

 Kategori pertama diwakili oleh percaya diri dan perasaan bernilai, percaya kepada orang lain, dan merasa diperlakukan adil. Monolognya mengalir dalam pernyataan seperti ”saya cukup bernilai”, ”mereka dapat dipercaya”, ”mereka memperlakukan saya dengan adil”.

 Kategori kedua, kenyamanan, cinta (love), dan keluarga (belonging). Orang-orang yang hidupnya seimbang cenderung penuh cinta dan ada yang memikirkan. Kata mereka, ”Kalau hari ini saya hilang, pasti ada yang kehilangan dan menangisi kepergian saya.”

 Kategori ketiga, kemampuan kita mengendalikan diri sendiri, pekerjaan/sekolah (kinerja), kemandirian, dan pengambilan risiko (perubahan). Kelompok terakhir ini dapat disimpulkan dengan pernyataan ”saya bisa mengendalikan dorongan-dorongan liar dalam jiwa saya”, ”saya punya prestasi”, ”saya cukup punya otoritas”, serta ”kalau menjadi lebih baik, mengapa takut menghadapi perubahan”.

 Andaikan David masih ada dan polisi Singapura cukup terbuka, mungkin kita bisa menemukan jawabnya dengan memeriksa kesepuluh elemen itu, baik pada David maupun dosen pembimbingnya.

 Dari pengalaman anak-anak didik yang dianggap bermasalah oleh para gurunya, diyakini David bukan anak jahat atau lemah kecerdasan sosialnya. David telah menjadi ”narapidana keyakinan” yang tersudut dalam hutan perburuan dan kita tak memberikan ruang untuk membebaskan atau menghargai keunikannya.

Rhenald Kasali Pengajar di Universitas Indonesia

 

Terima kasih Pak Rhenald

Saya ingin menambahkan:

Elemen-elemen di atas vital dalam dunia pendidikan. Seorang anak apapun karakteristiknya harus dihargai sisi positifnya dan dimaklumi sisi negatifnya. Pilihan terbaik adalah bisa mengoptimalkan potensi dari setiap anak dan mengurangi sisi negatifnya.

Sistem pendidikan di beberapa negara Asia, contohnya Singapore cenderung melihat potensi anak dari kemampuan intelektual. Sejak kecil anak diklasifikasikan berdasarkan IQ dan ranking di kelas. Anak yg pintar diberi keistimewaan namun juga dituntut lebih.

Sebenarnya sistem ini tidak buruk. Namun ini menjadi buruk jika kebutuhan anak sebagai makhluk sosial diabaikan. Di Singapore, boleh dikatakan sistem hidup manusia bersifat homogen. Hampir semua orang melakukan hal yang mirip-mirip dalam artian belajar keras, kerja keras, beli apartment, cari duit yang banyak, dll. Kurang ada kebebasan bagi hal-hal lain. Kita bisa lihat Singapore tidak menonjol di bidang seni, olahraga misalnya padahal negaranya paling maju di Asia Tenggara. Dalam urusan kebebasan pendapat dan demokrasi, Indonesia dan Thailand masih jauh lebih unggul.

Akhir-akhir ini banyak sekolah di Indonesia yang mengacu pada sistem Singapore dengan alasan sistem ini terbaik. Saya sendiri tidak yakin dengan anggapan ini mengingat output dan outcome dari sistem pendidikan Singapore ini tidak jauh berbeda dengan sistem Amerika, Australia, atau Belanda misalnya. Dalam artian kualitas sumber daya manusia lulusan high school atau university Singapore tidak menjamin lebih baik dari lulusan universitas top di negara-negara tadi. Sekolah di Singapore konon lebih berat dan menuntut ketimbang di Australia misalnya. Tapi hasilnya toh nggak signifikan. Malah dengan begini efisiensi pendidikan dipertanyakan. Apakah Indonesia mau meniru yang begini?

Akhir kata, kasus David ini terlepas dari fakta yang masih kabur semoga bisa mengingatkan bahwa pendidikan tidak hanya IQ tapi juga EQ dan SQ. Turut belasungkawa juga kepada keluarga dan teman-teman yang ditinggalkan. Dan juga semoga pihak NTU maupun polisi Singapore bisa bersikap jujur, transparan, dan gentlemen dalam kasus ini.

One Response

  1. Mungkin ini sisi negatif pendidikan yang keras.Secara psikologis menjadi terganggu kalau IQ tidak diimbangi EQ dan SQ.Ini juga mungkin perlu menjadi pertimbangan dari semua lembaga pendidikan agar peristiwa ini tidak terulang lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: