Apresiasi keunikan anak

Menghargai anak adalah hal yang tidak mudah. Setiap anak memiliki karakteristik yang berbeda sehingga memerlukan pendekatan yang berbeda pula. Ada anak yang bisa dengan sendirinya rajin belajar di sekolah namun kebanyakan harus diingatkan bahkan diperintah. Ada anak yang suka kegiatan fisik di luar ruangan namun ada juga yang lebih suka di rumah bermain dengan permainan elektronik seperti computer game atau Playstation. Perlu dilihat alasan adanya perbedaan tersebut.

Pada dasarnya anak sebagai manusia adalah makhluk cerdas yang selalu ingin tahu.  Perlu dipahami juga bahwa setiap anak adalah sosok yang unik dengan minat masing-masing. Secara biologis pun setiap manusia memiliki DNA yang unik. Hal ini menyebabkan setiap anak memiliki kecerdasan masing-masing, bisa berupa bakat di aspek logical-mathematical, verbal, visual, natural, dll (cek di http://en.wikipedia.org/wiki/Theory_of_multiple_intelligences). Tidak ada anak yang bodoh kecuali akibat kerusakan otak. Maka seharusnya setiap anak harus dihargai apapun karakternya.

apreciation

Di beberapa negara maju semisal USA, Australia, EU, Japan, motivasi belajar dilakukan dengan memberi kesempatan sebesar-besarnya bagi tiap anak untuk mengembangkan bakat dan minat. Setiap anak diapresiasi hasil kerjanya walaupun terkadang sebenarnya biasa-biasa saja. Sempat muncul keheranan mengapa guru-guru di sini mudahnya memberi pujian. Namun perlu dipahami pujian dari guru amat berarti bagi anak. Begitu pula orang tua juga harus bisa mendengar dan mengapresiasi karya anaknya di rumah.

Sayang hal ini belum banyak diterapkan di negara-negara Asia. Bahkan di Singapore yang dianggap maju pun, anak masih diperlakukan sebagai robot. Anak dipacu untuk belajar keras di sekolah yang notabene hanya berfokus pada kecerdasan logical-math yang mengacu ke IQ. Tidak heran di Singapore anak-anak yang memiliki kecerdasan lainnya cenderung tersingkir.

Indonesia perlu belajar dari kesalahan tersebut dengan menjalan sistem pendidikan yang kaya akan ragam yang mampu mengakomodasi bakat dan minat anak. Sebagai negara besar dengan hampir 250 juta penduduk, banyak sekali potensi sumber daya manusia yang bisa digali sehingga tidaklah layak hanya berfokus pada aspek kecerdasan tertentu. Filosofi ini perlu menjadi roh dalam pendidikan Indonesia.

One Response

  1. Saya berusaha untuk menghargai setiap hal baik yang dilakukan anak saya. Karena penghargaan, sekecil apapun itu sangat berarti dan mampu memacu si anak untuk terus berkreasi.
    Salam kenal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: