Amerika Latin yang Terus Bergerak ke Kiri. Bagaimana Indonesia?

Berikut artikel di harian Jawa Pos halaman internasional yang dimuat 1 November 2009. Patut direnungkan bagaimana seharusnya Indonesia diarahkan.

Amerika Latin yang Terus Bergerak ke Kiri
Che, Castro, dan Program Populis

Soy cubano, Argentina, boliviano, peruano, ecuatoriano, etc…. Usted entiende

(Che Guevara)
98128large

ERNESTO “Che” Guevara bukanlah orang yang merisaukan identitas. “Saya orang Kuba, Argentina, Bolivia, Peru, dan Ekuador….Kau Tahulah,” kata dia. Pendek kata, dia warga Amerika Latin. Karena, dia lahir dan tumbuh menjadi pejuang marxis di Argentina, bergerilya menumbangkan kediktatoran Fulgencio Batista di Kuba bersama Fidel Castro, dan mati ditembak dalam revolusi menentang junta militer di Bolivia.

Jose Mujica yang menang dalam pemilihan presiden (pilpres) Uruguay putaran I Minggu lalu (25/10) jelas tak bisa disejajarkan dengan Che. Tapi, kemenangan eks pemberontak beraliran kiri itu seperti mempertegas fenomena yang sedikit banyak bersumber pada spirit antikapitalisme lintasnegara ala Che tadi: Amerika Latin yang semakin bergerak ke kiri.

Kiri di sini bisa dibaca bebas sebagai pemerintahan sosialis-marxis yang radikal (misalnya Venezuela, Bolivia, Ekuador) ataupun sosialis-demokrat yang moderat (contohnya Brazil dan Cile). Bermula dari Hugo Chavez yang mulai berkuasa di Venezuela sejak 1998, fenomena itu bergerak seperti kartu domino. Melintas ke sesama negara Amerika Selatan seperti Bolivia, Ekuador, Brazil, Paraguay, Cile, dan Argentina. Melebar ke Kosta Rika, Nikaragua, Honduras, dan El Salvador di Amerika Tengah. Serta, menyeberang ke negeri-negeri mini di kawasan Karibia macam Antigua-Bermuda dan St Vincent-Grenadine.

Total di Amerika Selatan saja, menurut World Politics Review, sekitar 75 persen dari 382 juta warga kawasan itu berada di bawah komando pemerintahan kiri. Jumlah itu otomatis akan bertambah kalau Mujica yang sangat diunggulkan memenangi putaran II pilpres Uruguay pada 29 November mendatang.

Mengapa menjadi kiri begitu diminati di Amerika Latin di era ketika kapitalisme sudah dianggap sebagai pemenang di mana-mana? Jose Natanson, editor jurnal politik Nueva Sociedad, menyebut prinsip kesetaraan yang ditawarkan pemerintahan kiri sebagai sihir penarik minat.

“Di saat kemiskinan masih begitu membelenggu di Amerika Latin dan kekayaan sumber daya alam justru diminati korporasi asing, siapa yang tak tertarik mendukung pemimpin yang menawarkan nasionalisasi untuk menggenjot pendapatan negara dan memperluas lapangan kerja,” tulis Natanson.

Kebijakan ekonomi yang menguatkan peran negara itu belakangan memang terbukti mengerek perekonomian sebagian negara kiri di Amerika Latin. Venezuela dan Bolivia yang kaya minyak dan gas alam, misalnya, mengeruk keuntungan berlipat di saat harga kedua produk itu melambung di pasaran. Itu karena perusahaan-perusahaan minyak besar di kedua negara tersebut telah dinasionalisasi.

Daya tarik lain pemerintahan kiri adalah program-program populis. Chavez di Venezuela menggratiskan biaya pendidikan dan kesehatan. Sedangkan Bolivia di era Evo Morales memberi jatah kursi parlemen gratis dengan jumlah yang lebih meningkat kepada warga asli.

Di Brazil, Presiden Lula da Silva menjalankan proyek Bolsa Famiglia, semacam Bantuan Langsung Tunai seperti di Indonesia. Bantuan finansial didistribusikan kepada sekitar 40 juta jiwa. Artinya, hampir sepertiga populasi Negeri Samba itu mendapatkan donasi sosial tersebut.

Program terobosan ekonomi yang lebih komplet lagi ada di El Salvador. Presiden Mauricio Funes yang baru dilantik 1 Juni lalu itu menerapkan paket bantuan ekonomi untuk hampir seluruh lapisan masyarakat. Di antaranya, membangun sekitar 25.000 rumah baru untuk para pegawai dan memberikan kredit lunak kepada para petani.

Selain spirit Che Guevara, Fidel Castro yang kukuh memimpin Kuba sejak 1959 tentu juga harus disebut sebagai inspirasi di balik fenomena Amerika Latin yang terus bergerak ke arah kiri itu. “Tidak ada pemimpin lain (di dunia) yang berani berkonfrontasi dengan Amerika Serikat selama separo abad dan tetap bisa bertahan (hidup),” ujar Lorenzo Meyer, guru besar di College of Mexico, kepada LA Times.

Faktor usia dan kesehatan memang kini memaksa Castro berada di belakang layar. Namun, gerbong revolusi yang pernah dia masinisi sudah kencang melaju. Negara-negara di sekitar Kuba yang dulu mencibir dan memusuhi Castro, kini justru berada di belakang Kuba membentuk barisan pemerintahan kiri yang oleh Chavez disebut sebagai “poros kebaikan” itu. (hep/ttg)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: