Menciptakan makhluk hidup sintetis

Di bulan May 2010 ini sebuah tim riset dipimpin John Craig Venter, Hamilton Smith dan Clyde Hutchison dari John Craig Venter Institute berhasil menciptakan bakteri sintetis dengan cara memasukkan DNA sintetis ke bakteri Mycoplasma mycoides.

Sel Mycoplasma yang sudah dimodifikasi dengan DNA sintetis (dari John Craig Venter Institute)

http://www.jcvi.org/cms/research/projects/first-self-replicating-synthetic-bacterial-cell/overview/

http://en.wikipedia.org/wiki/Craig_Venter#Mycoplasma_laboratorium

Adapun prosesnya adalah DNA dari sel bakteri Mycoplasma mycoides yang  memiliki untai DNA yang relatif pendek diekstrak dan dimodifikasi di laboratorium. DNA yang sudah dimodifikasi dan ditambah gen antiobiotik yang memungkinkan sel tersebut tumbuh di medium mengandung antiobiotik. DNA yang dimodifikasi itu lalu dimasukkan ke sel Mycoplasma mycoides lainnya dan ditumbuhkan di medium mengandung antiobiotik. Dalam proses ini, sel-sel alami akan mati namun sel-sel termodifikasi akan bertahan dan berkembang biak.

Proses rekayasa genetika sendiri sudah dilakukan sejak puluhan tahun silam. Namun umumnya hanya dilakukan dengan memodifikasi sebagian kecil gen dalam DNA sel alami, bukan mengganti DNA secara keseluruhan.

Teknologi fenomenal ini dianggap menjadi dasar untuk merekayasa mikroorganisme lain untuk memperoleh mikrooganisme yang mampu menghasilkan produk-produk yang diinginkan mulai dari obat-obatan, biofuel, bahan kimia industri, makanan, dan lainnya yang tidak terbatas dan luas.

Tidaklah mengejutkan jika kemudian muncullah pro dan kontra. Para pendukung melihat ini sebagai langkah besar di dunia biological engineering (http://www.technologyreview.com/biomedicine/18988/). Namun di sisi lain para bioethics mulai mencemaskan dampak negatif dari teknologi ini sehingga diperlukan kebijakan yang matang dalam memanfaatkannya (http://blog.bioethics.net/2008/03/the-ethical-implications-of-synthetic-life-symposi/  dan http://www.nytimes.com/2010/05/30/opinion/30sun3.html).

Bagaimana kita menyikapi hal ini sebenarnya tidaklah rumit. Semua teknologi ibarat pisau. Baik atau buruk tergantung siapa yang memakainya. Yang terpenting adalah kematangan individu pengguna yang dibantu oleh kontrol sosial dari masyarakat dan pemerintah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: