Proses pembelajaran di universitas ditinjau dari hukum kekekalan massa

Tulisan ini mencoba mencari hubungan antara kualitas proses pembelajaran dengan waktu ditinjau dari sudut pandang ilmu Teknik, terutama Teknik Kimia. Just my humble opinion dari orang Teknik Kimia yang bukan pakar pendidikan.

Proses pembelajaran di universitas ditinjau dari hukum kekekalan massa

Berdasarkan prinsip-prinsip dasar konservasi massa, maka berlaku persamaan neraca massa:

In – out + generation = accumulation

Jika proses pembelajaran bisa dianggap sebagai suatu reaksi kimia yang terjadi di dalam otak maka persamaan di atas menjadi:

A – B + rX.V = dNX/dt   …………………….(1)

A – B + rX.V = d(VCX)/dt   ………………..(2)

  • A adalah laju ilmu yang masuk ke dalam otak
  • B adalah laju ilmu yang keluar dari otak (karena lupa).
  •  V adalah volume otak
  •  rX adalah laju generasi ilmu dalam otak berupa inovasi dan kreativitas
  • NX adalah jumlah kecerdasan yang dimiliki relative terhadap nilai nol
  • t adalah waktu
  • NX = V.CX, di mana CX adalah konsentrasi jumlah kecerdasan dalam otak.

Asumsi:

  • Karena volume otak mahasiswa bisa diasumsi konstan maka V konstan.
  • Untuk mempermudah analisis, A dan B dianggap konstan walaupun secara non-ideal A dan B juga fungsi waktu. Hal ini karena proses pembelajaran di universitas biasanya hanya beberapa tahun ( nilai t cukup kecil relative terhadap human life-span) dan frekwensi perkuliahan dibatasi oleh ketersediaan sumber daya.

Continue reading

Advertisements

The best religion – A dialog between Dalai Lama and Leonardo Boff

DIALOG WITH DALAI LAMA

the Brazilian theologist Leonardo Boff wrote:

In a round table discussion about religion and freedom in which Dalai Lama
and myself were participating at recess, I maliciously and also with interest, asked him: “Your holiness, what is the best religion?”
I thought he would say: “The Tibetan Buddhism” or “The oriental religions, much older than Christianity.”
The Dalai Lama paused, smiled and looked me in the eyes …. which surprised me because I knew of the malice contained in my question.

Continue reading

Apakah air minum kemasan berkadar oksigen tinggi lebih bermanfaat dari air minum biasa?

Akhir-akhir ini di pasaran ditemui air minum kemasan berkadar oksigen tinggi yang diklaim lebih baik dari air biasa misalnya bisa meningkatkan daya tahan, membantu metabolisme, dan menjaga kesehatan. Tapi apakah ini benar? Kita akan bahas di sini.

Continue reading

Belajar untuk membangun Papua

Berikut adalah artikel di Kompas yang bisa menggambarkan apa yang dilakukan di STKIP Surya.

Link: http://serpong.kompas.com/berita/detail/1310/belajar.di.serpong.untuk.membangun.papua

Gedung STKIP Surya di Gading Serpong

Belajar untuk membangun Papua

Setiap orang itu pintar, asalkan dididik dengan cara yang benar. Maka tidak ada istilah bahwa orang dari daerah tertinggal pasti kalah pintar dibanding orang yang dibesarkan di kota-kota besar.

Untuk mencetak siswa-siswi berkualitas, diperlukan guru atau tenaga pengajar berkualitas pula. Guru-guru dengan mutu terbaik ini harus pula dididik dengan metode pengajaran yang benar. Salah satunya seperti berlangsung di Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Surya (STKIP Surya). Sekolah tinggi ini didirikan oleh Yohanes Surya, seorang fisikawan Indonesia.

STKIP Surya menampung ratusan anak pedalaman Papua dari program beasiswa yang dilakukan pemerintah daerah Papua. Mereka ada yang berasal dari Kabupaten Serui, Tolikara, Jaya Wijaya, Puncak Jaya, Pegunungan Bintang, Timika, Raja Ampat, Fakfak, Sorong Selatan, Jayapura, bahkan dari Yahukimo, sebuah daerah yang baru mengalami pemekaran.

Pada tahun 2010, STKIP Surya menerima sekitar 100 mahasiswa Papua untuk angkatan pertama. Angkatan kedua, jumlahnya bertambah. Tak hanya dari pedalaman Papua, tapi STKIP Surya juga merekrut mahasiswa dari Kupang, Bangka Belitung, dan Palembang. Jumlahnya sekitar 250 orang. Tidak ada mahasiswa dari Jakarta atau kota besar lainnya. Semuanya murni berasal dari daerah, yang pendidikannya tertinggal, dan dari program beasiswa pemerintah daerah setempat.

Para lulusan SMA di Papua ini akan belajar di sini selama lima tahun sampai S1 dengan gelar Sarjana Pendidikan. Setahun pertama mereka mengikuti program matrikulasi. Hal ini untuk memperkuat pemahaman dasar mereka akan teori ilmu yang ada. Terlebih matrikulasi ini adalah untuk penyesuaian diri dengan perkuliahan di STKIP Surya karena pendidikan mereka sebelumnya di Papua tidak sejajar dengan pendidikan di Pulau Jawa maupun kota maju lainnya. Dalam artian kemampuan mereka tertinggal jauh dari anak SMA pada umumnya. Di tahun berikutnya, mereka melangsungkan kegiatan belajar di gedung Surya Research and Education Center (SREC) di Jalan Scientia Boulevard Blok U No. 7, Gading Serpong.

Continue reading

Encouragement

Berikut tulisan dari Rhenald Kasali. Patut direnungkan, terutama oleh orang tua dan para dosen/guru di Indonesia.

Encouragement

by Rhenald Kasali

 Thursday, 15 July 2010

LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat,bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa. Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali,sampai dia menyerah.Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi nilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri. Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?” “Dari Indonesia,” jawab saya.Dia pun tersenyum.

Continue reading

Kontroversi pengajaran teori penciptaan dan evolusi di sekolah

Artikel di Courier Mail hari ini mengupas rencana diajarkannya teori penciptaan di seluruh sekolah di Queensland sebagai bagian dari kurikulum nasional. Teori penciptaan menjelaskan jika semua makhluk hidup diciptakan seperti apa adanya sekarang oleh Tuhan. Teori ini menentang fakta evolusi yang menjelaskan makhluk hidup berasal dari proses seleksi alam di mana spesies yang unggul akan bertahan sementara yang lemah akan punah. Selebihnya silakan cek https://yalun.wordpress.com/2009/07/24/teori-penciptaan-dan-evolusi/

Lukisan The Creation of Adam oleh Michelangelo di langit-langit Sistine Chapel, Italy yang digambar tahun 1511.

http://www.couriermail.com.au/news/queensland/intelligent-design-to-be-taught-in-queensland-schools-under-national-curriculum/story-e6freoof-1225872896736

Continue reading

Mencemaskan Kualitas Guru Besar

Berikut adalah artikel di Jawa Pos 12 Feb 2010. Tulisan yang bagus dan mencerminkan kondisi guru besar (professor) di Indonesia.

Mencemaskan Kualitas Guru Besar
Oleh: Agoes Soegianto

MENTERI Pendidikan Nasional (Mendiknas) M. Nuh mengatakan bahwa guru besar Indonesia belum mumpuni. Pernyataan itu disampaikan ketika Mendiknas mengadakan pertemuan dengan kalangan media di Surabaya beberapa waktu lalu, sehubungan dengan banyaknya pengukuhan guru besar (gubes) yang diselenggarakan perguruan tinggi negeri (PTN) dan perguruan tinggi swasta (PTS).

Continue reading